Showing posts with label SEJARAH. Show all posts
Showing posts with label SEJARAH. Show all posts

Thursday, November 23, 2017

November 23, 2017

Asal Mula Nama Wamena Papua




Kota Wamena, Papua
Tidak ada yang mengetahui dengan pasti awal mula Wamena digunakan sebagai nama kota di Lembah Balim ini hal itu disebabkan minimnya sumber data yang otentik yang dapat digunakan sebagai landasan observasi dan pengujian lapangan apakah Wamena diambil dari salah satu nama tempat di Lembah Balim ini atau dari salah satu bahasa perantara di kalangan masyarakat yang mendiami lembah ini. Nama Wamena kemudian dapat ditelusuri dari beberapa informasi yang sempat ditulis oleh para misionaris yang pernah melakukan ekspedisi di daerah ini dengan menyampaikan data tertulis serta informasi lisan yang berhasil dikumpulkan pada saresehan/seminar hari Jadi Kota Wamena tanggal, 4 Nopember 1996.

Petikan informasi tersebut adalah sebagai berikut :

”Pada tahun 1959 pemerintah Belanda memasuki lembah Balim melalui lapangan terbang di Hitigima dan membuka pusatnya di Wesaput (muara kali Wesak= Wesagaput=Wesaput) dengan kepala Pemerintahan Belanda yang pertama (kontrolir) adalah Tn. Velkamp. Tugas pertamanya adalah membangun Lapangan terbang dekat kali Uwe (Uweima). Mengenai asal-usul dan arti dari nama ”Wamena” ada beberapa pendapat, ada yang mengatakan bahwa nama sebenarnya Uweima (dari nama kali Uwe + i + ma = dipinggir kali Uwe), yang kemudian oleh para pendatang diucapkan salah menjadi Wamena.

Pendapat itu belum tentu benar karena dalam peta yang dibuat oleh ekspedisi Archbol (1938) kali Uwe juga disebut Wamena.

Sementara dalam versi yang lain nama ”Wamena” oleh A. Akua menjelaskan dalam bukunya ) bahwa orang Wio (nama yang umum digunakan untuk daerah lembah balim) sendiri tidak mengenal suatu tempat dengan nama Wamena dan bahwa nama itu diberikan pada tahun 1957-1958 oleh Pendeta Jerry Rose yang tinggal dekat lapanan terbang sebagai pengurus barang milik CAMA. Pada suatu hari ia melihat mama kandung Kain Wenehule Hubi, Toarekhe Itlay menetekkan anak babinya sambil berkata ”yi wam ena oo...” (ini babi piara), oleh karena itu ia menyebut tempat itu ”Wamena”

Penjelasan di atas ini kurang meyakinkan penulis buku ini dengan alasan sebagi berikut : menurut catatan dalam arsip Gereja Katolik, pihak CAMA ( Pendeta Rose ) mulai berdomisili di Wamena pada bulan Septermber 1960 dan tidak pada tahun 1957-1958, kemudian benarkah bahwa ibu-ibu Balim menyusui anak babi kesayangan mereka seperti seorang bayi? Tentulah hal ini tidak benar. Cerita itu memberikan gambaran keliru kepada orang-orang luar mengenai orang Balim, lagi pula nama Wamena tidak baru muncul pertama kalinya pada tahun 1957-1958. Nama itu sudah disebut dalam Ekspedisi Archbold pada tahun 1938 sebagai nama alternatif untuk kali Uwe.

Dalam lanjutan suratnya sebagaimana disebutkan di atas, Frits Veldkamp menyampaikan bahwa dalam ekspedisi Archbold pada tanggal 26 Agustus 1938 rombongan menyeberangi sebuah kali kecil di lereng gunung Trikora pada ketinggian 3.150 meter, yang bernama ”Wamena”. Masyarakat Walesi membenarkan adanya kali kecil itu tetapi namanya bukan Wamena melainkan ” Wamela”.

Rupanya anggota ekspedisi itu salah mendengar dan mencatat ”Wamena”. Kali kecil itu mengalir menuju kali Balim melalui kali Uwe. Karena kekeliruan itu, ekspedisi Archbold memberikan dua nama kepada kali yang sama yitu Uwe dan Wamena ( kali yang mengalir dari welesi ke kali Balim disebut kali Uwe dan kali Wamena ) pada peta buatan ekspedisi Archbold yang diterbitkan pada bulan Mei 1939. Oleh karena itu Pemerintah Belanda sejak awal kedatangannya memakai nama ”Wamena” untuk Pos mereka di lembah Balim, yang mana diambil dari nama kali Wamena/Uwe.

Dari hasil wawancara terhadap 24 responden pada Saresehan hari jadi kota Wamena bulan Nopember 1996 sebagian besar menyatakan tidak mengetahui dari mana nama Wamena itu diambil untuk dijadikan sebagai ibu kota Kabupaten Jayawijaya, sedang empat orang saja yang menyatakan mengetahui tentang asal-usul nama Wamena. Menurut empat orang ini mengisahkan bahwa nama Wamena diambil dari dialog antar Fritz Velkamp dengan pembantunya yang sedang mengurus ternak di kandang. Fritz Velkamp bertanya : Sedang apa? Jawab pembantunya ”An Wam Ena” dari percakapan ini kemudian F.Velkamp mempublikasikan nama tempat ini Wamena.

Dari beberapa sumber, informasi di atas menunjukkan bahwa kata Wamena telah ada sejak dahulu dan digunakan hingga saat sekarang ini dan dapat diterima oleh seluruh masyarakat di Lembah Balim, yang kemudian diabadikan sebagai ibu kota Kabupaten Jayawijaya.

Setelah kedatangan Drs. Frits Veldkamp yang membawa misi Pemerintahan pada tanggal 10 Desember 1956 maka berangsur-angsur daerah Lembah Balim / Wamena mulai dikenal baik ditingkat Pemerintah Belanda sendiri maupun kalangan misionaris, dan tak ketinggalan misionaris Katolik yang menetapkan hari pertamanya dilembah Balim tanggal 5 Februari 1958 Gereja Katolik masuk di daerah Wamena.

Dengan kehadiran Pemerintah dan para misionaris tersebut, maka dalam kurun waktu tahun 1954 sampai dengan tahun 1960, semua masyarakat di Lembah Balim/Dani mulai mengadakan hubungan dengan dunia luar, yang mengakibatkan perubahan hidup dari tradisional ke perubahan yang radikal dalam struktur sosial, kegiatan sehari-hari dan dalam wawasan kebangsaan maupun identitas orang Dani. Puncak pergumulan orang Dani adalah tanggal 1 Mei 1963 secara resmi Irian Barat kembali ke pangkuan Republik Indonesia, dan mulai saat itu pelayanan penyelenggaraan pemerintahan telah beralih dari Hindia Belanda kepada Pemerintah Republik Indonesia.

Penulis Ayob Tabuni

Sunday, April 9, 2017

April 09, 2017

Cerita Rakyat Wamena Tahun 80 Asal Mula Nama Wamena

Wamena merupakan sebuah distrik di Kabupaten Jaya Wijaya, tanah Papua, Indonesia. Distrik ini satu-satunya kota terbesar yang berada di pedalaman tengah Papua. Tahukah kalian, bahwa nama Wamena diambil dari bahasa Dani, dimana terdiri dari dua kata, yaitu Wa dan Mena, yang berarti Babi Jinak. Namun, arti ini sedikit berbeda dari buku Kumpulan Cerita Rakyat Papua I, yang menyebutkan bahwa Wamena berarti Anak Babi. 
Sebelum dinamakan Wamena, tempat ini bernama Ahumpua. Ada cerita rakyat Indonesia kenapa Ahumpua berubah nama menjadi Wamena, dan itulah nama Wamena

***Pada suatu hari, gadis-gadis Ahumpua seperti biasanya menjaga anak-anak babi. Diantara gadis-gadis itu hanya ada satu gadis yang berani melakukan sesuatu dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Tempat dimana mereka menjaga babi adalah di pinggir kali Ahumpua (sekarang kali Baliem). Mereka menjaga anak-anak babi itu sejak pagi-pagi sekali. Dan pada siang harinya, gadis-gadis ini mandi di kali Ahumpua. Tapi sebelum mandi tiba-tiba ada orang berkulit putih muncul di pinggir kali Ahumpua. Gadis-gadis itu terkejut dan berteriak, "Eye… eye… eye... ap huluan… ap huluan…” (eye artinya minta tolong untuk menyelamatkan diri, ap huluan adalah orang berkulit putih. Jadi artinya, "tolong ada orang kulit putih"). Gadis-gadis itu langsung melarikan diri ke hutan, karena takut melihat orang kulit putih.
Hanya ada satu orang gadis yang berani menghadapi ap huluan. Ia tidak peduli apa yang terjadi nanti. Ap huluan tahu kalau gadis-gadis tadi takut kepadanya. Ia pun menjaga jarak dan memberikan salam dari jauh pada gadis pemberani itu. Salam yang disampaikan Ap huluan adalah bahasa isyarat dengan cara menggerak-gerakkan tangan yang berarti jangan takut… jangan takut, namun gadis ini tidak mengerti.
Akhirnya, Ap huluan mendekati si gadis dan memberikan salam dengan menjabat tangan gadis itu. Gadis itu membalas jabatan tangan tersebut. Setelah berjabat tangan, Ap huluan bertanya pada si gadis, “Apakah nama tempat ini?” 
Ketika Ap huluan menanyakan nama tempat, muncullah seekor anak babi, dan secara spontan si gadis berkata “Tu wamena…” yang artinya ini anak babi (tu adalah ini, ena adalah anak, dan wam adalah babi). Ap huluan segera mengerti dan mencatat dalam buku agendanya. Jadi, arti dari Wamena adalah anak babi. Telah terjadi kesalahpahaman antara Ap huluan dan si gadis, dan kesalahan tersebut tidak disadari oleh keduanya. 
Percakapan kemudian berlanjut masih dengan menggunakan gerakan-gerakan tangan. Setelah itu, Ap huluan memberikan salam dan segera berjalan kaki ke arah Ahumpua bagian timur. Sekarang arah Ap huluan ini disebut “Wamena Timur”. Setelah Ap huluan pergi, si gadis segera berlari ke rumahnya sambil memanggil teman-temannya yang sedang bersembunyi ketakutan. Kemudian dengan menangis si gadis bercerita kepada orang tuanya. Mendengar cerita si gadis ini ada yang percaya dan ada yang tidak. Bagi yang percaya, mereka segera menyiapkan alat-alat perang dan segera mengejar Ap huluan untuk membunuhnya. Namun beruntunglah, Ap huluan tidak ditemukan. Peristiwa ini merupakan awal proses pembangunan di daerah tersebut.
Suatu ketika lewatlah pesawat yang ditumpangi oleh orang-orang berkebangsaan Belanda dan mendarat di daerah Ahumpua dengan suara yang menakutkan. Berturut-turut kemudian pesawat-pesawat lain mendarat di daerah tersebut selama kurang lebih satu minggu. Akhirnya, daerah Ahumpua dikuasai Belanda. Orang-orang Belanda mulai menetap di Ahumpua. Mulailah orang-orang tersebut membangun rumah dengan atap dari seng. Nama daerah yang dulunya Ahumpua diganti menjadi Wamena, yang berarti anak babi. Pemberian nama ini akibat kesalahpahaman percakapan antara Ap huluan dengan si gadis. Itulah cerita asal mula kata Wamena.

***Bagaimana, sekarang kalian sudah tahu bukan cerita rakyat Indonesia mengenai asal usul nama Wamena? Semoga dapat membantu kalian belajar mengenal alam Indonesia ya ^^
Postingan cerita rakyat Indonesia ini dinukil dari dua sumber, yaitu buku Kumpulan Cerita Rakyat Papua.
Diterbitkan Oleh : Ayob Tabuni